Gamer dan Content Creator, Dua Dunia yang Berkaitan namun Melelahkan


Gemerlap lampu LED terpancar dari sebuah kamar ditemani lampu putih terang benderang yang ikut meramaikan suasana. Gerakan lihai sebuah tangan berpadu dengan kecepatan dan ketepatan, terdengar suara tawa dan obrolan dari depan monitor. Ratusan hingga ribuan jam telah ia dihabiskan duduk di kursi gaming yang terletak di depan PC, entah sudah berapa banyak gelas kopi yang ia habiskan menemani rutinitas sehari-harinya sebagai live streamer game.

Fenomena ini sudah biasa terjadi dan mungkin saja menjadi sebuah keharusan. Anda yang berprofesi sebagai live steamer gaming tentu akan menjadi seorang content creator juga, alhasil apa yang anda kerjakan selama live streaming akan anda edit kembali menjadi beberapa bagian untuk keperluan konten di media sosial.
 
Pernah tidak anda kepikiran tentang bagaimana padatnya jadwal dan target yang mereka hadapi? Bagi mereka yang bekerja di suatu perusahaan atau bekerja sama dengan perusahaan, tentu hal ini menjadi tugas utama mereka untuk meraih KPI atau penilaian indikator kerja. Lalu bagaimana mereka yang ada di jalan indie alias individu?
 
Sebuah hobi dan profesi yang sulit, di mana anda harus live stream bermain game selama berjam-jam dan melakukan edit untuk diposting di sosial media. Tidak semua orang sanggup melakukannya.
 
 
Hubungan antara Industri Game dan Konten Digital
 
Industri game berkembang dengan sangat pesat dari tahun ke tahun, mulai dari game-game kelas AAA sampai dengan game indie. Setiap tahunnya ada begitu banyak game yang dirilis. Para gamer yang melakukan live streaming bermain game bisa menjadi salah satu profesi yang menjajikan, pasalnya begitu banyak live streamer game baru bermunculan dari waktu ke waktu.
 
Kedua belah pihak ini begitu erat hubungannya. Pihak developer atau publisher mendapatkan uang dari hasil penjualan game mereka dan gamenya dipublikasikan ke banyak orang melalui live streamer. Begitu juga dengan para streamer, mereka mendapatkan pendapatan dari live streaming mereka.
 
Penonton pun terhibur dan tidak sedikit yang membeli game karena terinspirasi dari streamer. Namun, platform live streaming di dunia masih kalah dengan hype media sosial karena keduanya menyediakan fitur yang berbeda. Live streaming bisa dilakukan di platform A dan publikasi konten setelah live streaming bisa dilakukan di platform B. Awareness meluas sejalan dengan audience yang kian bertambah untuk setiap target yang mereka tuju. 
 
Di sini kita bisa melihat bahwa perubahan paradigma dalam cara menghibur audience, yang tadinya pasif menjadi aktif.
 
 
Gamer, Profesi, dan Hobi
 
Coba sekarang kita breakdown gamers yang mempublikasikan konten mereka ke sosial media menjadi 3 tipe:
 
👉 Streamer gamers
Banyak steamer yang aktif di sosial media dalam membuat konten selain konten streaming mereka. Mulai dari membuat design ringan, kompilasi video streaming mereka, hingga konten-konten yang mengunggah kehidupan sehari-hari mereka.
 
Bayangkan, berapa banyak waktu yang mereka habiskan dari mulai streaming, editing, hingga membuat planning berikutnya?
 
Streamer yang bekerja sama dengan orang lain (baik itu perusahaan atau tim sendiri), pekerjaan mereka jadi lebih dimudahkan dibanding mereka yang bekerja sendiri. Salah satu kesulitan yang paling utama adalah menentukan momen mana yang seharusnya mereka potong dan edit untuk dipublikasikan kembali. Hal ini memakan waktu yang lama untuk melihat kembali siaran live mereka.
 
👉 Non streamer gamers
Bagi gamers yang tidak melakukan streaming, biasanya mereka akan merekam gameplay mereka sebelum dipublish. Kita sering melihat gamers tipe ini, banyak dari mereka yang tidak melakukan streaming karena lebih memilih untuk membuat konten gameplay saja.
 
Berbeda dengan live streaming di mana semuanya disiarkan secara live, karena kalau ada kesalahan bisa menjadi sesuatu hal yang memalukan. Misalnya saja ketahuan pakai cheat.
 
Gamers tipe ini memang akan menyuguhkan sesuatu yang menurut mereka menarik untuk dilihat, hingga akhirnya orang lain akan follow menunggu konten berikutnya.
 
👉 Content creator gamers
Apakah mereka melakukan streaming atau record gameplay mereka? Terkadang iya, tapi mereka lebih banyak mengambil sumber konten dari berbagai channel. Misalnya, kompilasi clip video yang diambil dari YouTube atau berita terbaru tentang game.
 
Biasanya tipe ini lebih cenderung mengedepankan intensitas, up to date, dan viralism (berfokus pada sesuatu yang sedang viral). Durasi pengerjaan konten mereka berdasarkan pertimbangan potensi konten mana yang akan menjadi viral nantinya.
 
Baik gamer, live streamer, dan content creator mereka memiliki keterkaitan dalam pembentukan ekosistem gaming. Seseorang bisa merangkap 3 profesi sekaligus atau memilih hanya 1, yang penting adalah bagaimana media sosial memfasilitasi kolaborasi dan pertumbuhan bersama.
 
 
Waktu Bermain adalah Jam Kerja Mereka
 
Orang awam akan beranggapan bahwa gamers hanya bermain game saja dan dapat uang. Padahal, kenyataannya belum tentu seperti itu, apabila kita ambil dari sudut pandang orang yang belum tahu. Sama saja dengan, driver ojol cuma jalan-jalan aja dapat uang, atau contoh lainnya adalah orang IT yang kerjanya cuma duduk di depan pc doang lalu digaji.
 
Mereka yang beranggapan seperti ini tidak salah, tapi tidak 100% benar. Para profesional biasanya mempunyai rutinitas sendiri yang tidak dilakukan oleh orang-orang non profesional. Misalnya, seorang freelancer memiliki jam kerja berbeda dengan orang-orang yang bekerja di kantor.
 
Seorang gamer profesional dari 3 tipe di atas, mereka memiliki jam kerja yang mungkin bisa dibilang cukup unik. Bagi mereka yang bekerja sendiri, biasanya rutinitas mereka habis dimakan waktu ketika sedang bermain game dan mengedit. Tapi, itu bisa menjadi sebuah kesenangan bagi mereka. Gamer profesional yang bekerja sama dengan sebuah perusahaan agency, tentu ini memakan waktu yang lebih banyak. Mereka akan memiliki jadwal ketat dari perusahaan agency tempat ia bernaung.
 
Bagaimana dengan Editing?

Ada beberapa orang yang mementingkan kualitas untuk diupload ketimbang kuantitas. Biasanya mereka mengunggah kontennya dalam rentang waktu yang cukup lama seperti sebulan sekali karena ia tahu bagaimana konten yang disajikan dan disukai oleh banyak orang.
 
Sebagai seorang gamers dan editor, butuh waktu yang cukup lama untuk memainkan dan menyajikan sebuah konten game. Apalagi, hasil editannya menggunakan banyak element yang memerlukan waktu lama dalam mengedit.
 
Ada juga yang mengumpulkan gameplay dari banyak player yang diupload ke channelnya menjadi sebuah kompilasi. Tidak heran kalau sampai ada orang yang upload 2 video sekaligus (bahkan lebih) dalam satu hari. Mungkin saja saking banyaknya video yang masuk sehingga memutuskan untuk melakukan jadwal upload 2x sehari supaya gameplay tersebut tidak kadaluarsa.
 
Kedua cara ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, terlepas bagaimana mereka mendapatkan monetisasi dari platform yang mereka unggah. Banyak orang yang setia menunggu konten-konten terbaru mereka sehingga rela untuk menanti kapan video terbaru yang akan muncul dan konten apalagi yang akan disajikan.

Banyak yang beranggapan bahwa editing itu adalah hal yang mudah. Mereka berpikir bahwa record, cut, dan publish adalah hal yang bisa dikerjakan tanpa ada kendala. Sayangnya, tidak semuanya benar.
 
Kira-kira beginilah timeline pembuatan konten:
 
 
Peran dari sebuah teknologi yang digunakan akan menentukan output yang ingin dicapai. Misalnya, apabila ingin editing yang ringan maka bisa menggunakan editing template dan apabila ingin editing yang bagus maka bisa menggunakan editing yang detail dengan software yang lebih mumpuni. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan, tantangan yang dihadapi pun akan berbeda-beda. Pertumbuhan traffic dan profit akan menentukan seberapa besar kualitas dan kuantitas yang dihasilkan dari pelaku bisnis ini.
 
Apakah anda ingin menjadi seorang content creator gamer?
 
Dukung Saya di Trakteer
 
Bagi Anda yang suka dengan artikel-artikel yang saya buat, saya berharap Anda bisa mendukung saya melalui sedikit donasi untuk meningkatkan kualitas konten yang saya buat. Rencananya, saya ingin memiliki website sendiri. Apabila Anda berkenan, silakan klik gambar di bawah ini untuk menuju halaman donasi.

Comments