Sejak dirilisnya game Black Myth: Wokung, membuat saya untuk memainkan kembali game Saiyuki: Journey West yang ada di PS1.
Meskipun tidak ada hubungannya dengan kedua game ini, namun saya teringat dengan karakter Wukong, sosok manusia kera yang ada di dalam cerita rakyat China yang sudah menjadi suatu budaya. Karakter ini banyak diadaptasi menjadi ke berbagai produk kreatif, salah satunya adalah game.
Saiyuki: Journey West adalah game strategi RPG yang standar menurut saya, desain karakter yang cukup lumayan bagus, desain dunia yang tidak terlalu wah, hingga efek-efek dalam battle yang cukup mengesankan bisa menjadi daya tarik sendiri. Tapi, perlu banyak grinding agar bisa melewati satu tempat ke tempat lain karena kekuatan level adalah segalanya. Hal yang biasa di dalam game RPG.
Baca juga: Digimon World, Tidak Segampang yang Dikira
Story Classic, Tidak Ada yang Istimewa
Di game Saiyuki: Journey West, sebenarnya kita diajak untuk menyelami salah satu legenda paling ikonik di Asia, yaitu cerita tentang Journey to the West atau yang lebih dikenal dalam Bahasa Indonesia sebagai Perjalanan ke Barat. Sebuah kisah dari era Dinasti Ming tentang perjalanan biksu Tang Sanzang yang ditemani beberapa sosok makhluk (termasuk Sun Wukong, si Raja Kera) untuk mencari teks-teks suci Buddha di India.
Cerita bermula ketika Genjo, seorang biarawan yang berusia remaja yang dibesarkan di Gold Temple, memimpikan Lady Kannon dan menganugerahkan tongkat kepadanya. Dia ditunjuk sebagai wakil kuil dan mengambil nama biksu Sanzo.
Sepanjang perjalanan, dia akan membebaskan Goku (Wukong) dari penjara batu dan menjaga tongkat suci pemberian Lady Kannon. Akan ada side-quest lainnya yang akan membantu player untuk grinding dan farming, namun quest-quest ini akan bersifat repetitif sehingga cepat sekali untuk merasa bosan.
Pada awal permainan, Anda bisa memilih Sanzo pria atau wanita. Tidak ada perubahan story, hanya tampilan visual saja.
Genjo bertemu dengan Lady Kannon di dalam mimpi dan memberikannya sebuah tugas yang menjadi jalan cerita di game Saiyuki: Journey West.
Sanzo yang berusaha untuk menyelamatkan Goku dari segel batu untuk membantunya di perjalanan.
Baca juga: Brave Fencer Musashi, Yaiba ke Isekai
Strategi dan Fantasy yang Lumayan
Sebagai game RPG strategi, setiap battle akan disetting di medan yang berbeda-beda. Mulai dari pegunungan, lembah, hingga rawa-rawa yang bisa memengaruhi strategi untuk memenangkan battle seefisien mungkin. Masing-masing karakter memiliki kemampuan yang dapat berkembang seiring meningkatnya level dan progres story, termasuk kemampuan untuk berubah menjadi makhluk mitologis.
Son Goku bisa berubah menjadi kera raksasa dengan kekuatan luar biasa. Cho Hakkai (Zhu Bajie) bisa berubah menjadi babi besar yang dapat melancarkan serangan brutal, begitu pula dengan tim lainnya. Transformasi ini bisa mempermudah untuk mengalahkan musuh, namun juga dapat menambah ketergantungan player. Ada batasan durasi dalam melakukan transformasi sehingga player harus bijaksana kapan dan dalam kondisi apa kekuatan transformasi dibuuhkan.
Sebenarnya, tidak ada hal yang terlalu menarik di game ini, namun saya suka dengan kualitas grafik dan efek yang disajikan. Untuk karakter-karakternya sendiri pun tidak terlalu menonjolkan cerita di balik sosok mereka, tidak ada kompleksitas dari karakter aslinya di dalam legenda.
"Werechange" di mana Anda bisa berubah menjadi makhluk mitologis yang kuat untuk membantu Anda di pertarungan, namun skill point yang dibutuhkan tidaklah sedikit (pojok kiri atas).
Semua skill dari masing-masing karakter di dalam game Saiyuki: Journey West.
Baca juga: Chrono Cross, Perjalanan Menguak Divergensi
Sebuah Seni dengan Budaya yang Hidup dari Legenda
Saiyuki: Journey West bukanlah game dengan grafis luar biasa jika dibandingkan dengan game-game lain di zamannya, namun gaya seni yang disajikan cukup sesuai dengan nuansa legenda Tiongkok kuno. Desain karakternya dipengaruhi oleh seni oriental dan detail latar belakangnya menggambarkan pemandangan dunia mitologi ala Tiongkok sehingga dapat membantu untuk menciptakan atmosfer yang cukup berkarakter.
Game ini sepertinya berniat untuk mengajarkan kita tentang persahabatan, pengorbanan, dan pentingnya menjaga keseimbangan antara dunia spiritual dan dunia nyata. Misalnya seperti permasalahan konflik yang terjadi antar karakter sebagai representasi dari berbagai masalah sosial sehari-hari, keserakahan, kecemburuan, hingga ketidakadilan.
Musik dalam game ini juda tidak ada yang berkesan, semua flat di sepanjang permainan dari New Game sampai tamat. Mungkin ada baiknya di kala itu menggunakan banyak instrumen tradisional atau musik orkestra untuk menciptakan perpaduan nada yang menenangkan dan bisa membangkitkan semangat saat pertempuran.
Perlu diakui bahwa art style Saiyuku: Journey West bisa menggambarkan ilustrasi budaya yang dimiliki oleh Tiongkok dipadukan dengan style Jepang.
Sebuah Kenangan Manis dengan Pembelajaran
Meskipun Saiyuki: Journey West tidak terlalu menarik perhatian gamer kala itu, game ini masih bisa dinikmati di hati para penggemar RPG strategy. Rasanya, ada sesuatu yang tidak bisa diungkapkan setelah memainkan game ini, sebuah perasaan yang cukup puas untuk bisa menikmati battle hingga tamat.
Keinginan:
✅ Menikmati kembali battle yang cukup memuaskan.
✅ Memainkan peran strategi untuk setiap karakternya.
✅ Nostalgia
Tidak ingin:
❌ Quest yang repetitif.
Apakah Anda pernah memainkan game ini?
Apakah Anda tertarik untuk memainkan game ini?
Dukung Saya di Trakteer
Bagi
Anda yang suka dengan artikel-artikel yang saya buat, saya berharap
Anda bisa mendukung saya melalui sedikit donasi untuk meningkatkan
kualitas konten yang saya buat. Rencananya, saya ingin memiliki website
sendiri. Apabila Anda berkenan, silakan klik gambar di bawah ini untuk
menuju halaman donasi.


.png)
.png)
.png)



Comments
Post a Comment